Selasa, 03 November 2009

Mak Irit dan Penghematan Keuangan Keluarga





Pernah nonton Jelang Siang Trans Teve yang episode Mak Irit belum?  Itu lhoh ibuk-ibuk genit yang sukanya belanja barang-barang murah and nawarnya iriiiit banget sampai bikin sellernya bunuh diri.  Mak Irit?  Dengar namanya aja aku udah senyam-senyum.  Wanita emang kudu irit (hemat) too, apalagi zaman sekarang dimana harga-harga melambung tinggi (apalagi di Timika yang pakai kurs Dollar USA hi..hi..hi..).


Ibukerte penggemar Mak Irit ya?  He..he...he..penggemar sich bukan tapi aku merasa tergelitik untuk menulis.  Kalau nonton di televisi sich nawarnya Mak Irit emang kebangetan banget.  Naratornya aja sering celetuk "Mak Irit..Mak Irit, Nawarnya jangan kebangetan duooong Mak Irit!".


Ibukerte sich merasa di tengah-tengah, irit enggak , boros juga enggak.  Menurutku Irit/boros itu subyektif banget.  Yang menurutku irit, belum tentu orang menganggap itu irit, mungkin malah beranggapan kurang kerjaan dan menyulitkan diri-sendiri.


Ibukerte sich paling irit kalau beli baju dan make up.  Bukan karena enggak punya uang tetapi karena harga baju mahal di sini (Timika) jadi mendingan kalau pas pulang ke jawa kesempatan beli baju dan make up. 


Irit itu bisa di pelajari, menurut pengalaman Ibukerte sich banyak advise dari orang, atau baca-baca di majalah yang bisa kita praktekkan (menurut versi saya lhoo).  Kakakku pernah bilang "kalau mau ngirit sabun cuci piring, campur aja dengan air sedikit supaya hemat".  Rupanya dia pelajari dari mertuanya.  Lain waktu, "kalau setrika tumpuk aja baju-baju sejenis seperti kaus dengan kaus kemudian baru di setrika sehingga baju di bawahnya kena panas dari baju yang paling atas".  Hemat tenaga, waktu dan uang untuk listrik.  Atau....baju jangan keseringan dicuci, kalau cuman basah sedikit mendingan di angin-anginkan saja.  Kalau yang ini sich belum tentu orang bisa misalnya tetanggaku.  Dia orangnya ga bisa pakai baju meskipun basah sedikit aja.  Gerah katanya. I could'nt blame her.


Aku pernah baca di blog nya Ninit Yunita tentang hitung-hitungan yang berpengaruh dengan kehidupan finansial kita.  Misalnya nich, kalau kita bisa menghemat uang belanja Rp. 500,00 / hari maka kita telah menghemat uang Rp. 3500/minggu, atau Rp. 15.000,00/bulan, atau Rp. 182.500,00 / tahun.  Sesuatu hal yang tidak terbayangkan bukan buk? Sesuatu yang kecil ternyata sangat berarti jika dijumlahkan/akumulatif.


Sejauh ini Ibukerte telah menghembat biaya untuk pampers yang dahulu sebulan bisa menghabiskan uang Rp. 100.000,00 sekarang turun drastis menjadi kurang dari Rp. 50.000,00.  Bisa di bayangkan berapa penghematan yang telah ku lakukan jika Rp. 50.000,00 x 12 bulan = Rp. 600.000,00 !!!. How cool is that?


Kok bisa sich? 


Bisa dong...baca postingan ibukerte tentang "Beralih ke Popok Kain" ya supaya lebih jelas. Kalau ingin produk popok kain kunjungi aja website Reusable Diaper atau yang baru-baru aja muncul yaitu Racheline.  Tapi masalah harga sich memang lebih mahal Racheline kayaknya karena bahannya lebih berkualitas dan juga Made in USA ibuk-ibuk.  Ibukerte jujur ingin sich beli produk-produknya Racheline yang Bumwear tapi berhubung belum ada dana jadi biar jadi Wish List-nya Ibukerte dech.


Tapi penghematan kecil-kecilan tidak saja urusan popok bukan ibuk?  Bisa hemat yang lain misalnya hemat pakai air, gula pasir, deterjen, produk kosmetik, baju, minyak goreng, listrik. Atau irit nawar seperti Mak Irit he..he..he.. Pokoknya yang kira-kira bisa di hemat sedikit-sedikit dech buk. Kan dari yang sedikit-sedikit ini lama-lama jadi Gunung eh bukit.


Bicara masalah mengatur keuangan, websitenya Quantum Magna Financial pantas di lirik lhoh ibuk-ibuk soalnya ada Quick Check Up untuk mengatur keuangan selama sebulan.  Berguna banget buat Ibukerte.


Salam

Ibukerte













1 komentar:

  1. reusable diaper bukan cuma hemat untuk jangka panjang, tapi juga lebih green! =)

    BalasHapus